Edensor

Edensor - adalah buku ketiga dari tetralogi laskar pelangi yang dibuat oleh Andrea Hirata. “Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar Matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!” Buku Edensor dipersembahkan untuk ibunya N.A. Masturah Seman Said Harun.-

Aku menuju ke halte bus lalu menaiki bus desa yang butut. Di dalamnya duduk terpisah-pisah segelintir petani. Diam. Setiap orang tenggelam dalam lamunan. Bus meluncur berderak-derak, berhenti di setiap desa, dan silih berganti naik turun petani yang kumal. Tak ada yang bicara. Di luar jendela kulihat gudang-gudang tua, ladang bunga matahari, rumput yang digulung untuk makanan ternak, dan kuda yang berlarian di lapangan luas. Sebuah senja yang muram nun di pedalaman Inggris.

Tak terasa, lebih dari sejam aku berada di dalam bus, meliuk-liuk sampai ke pelosok desa yang tak kukenal, jauh, jauh sekali meninggalkan Sheffield. Lalu bus mendaki sebuah lereng bukit yang landai. Mulanya ujung tanjakkan ditutupi pohon-pohon cemara yang rapat. Ketika bus berbelok, dedaunan cemara tersibak dan seketika itu, pula di depanku tersaji pemandangan yang membuatku merasa terlompat ke dalam sebuah bingkai dalam kepalaku.

Bus merayap, aku main dekat dengan desa yang dipagari. Tumpukan batu bulat berwarna hitam. Aku bergetar menyaksikan nun di bawah sana, rumah-rumah penduduk berselang-seling di antara jerejak anggur yang terlantar dan jalan setapak yang berkelok-kelok. Aku terpana dilanda dejavu mlihat hamparan desa yang menawan. Aku merasa kenal dengan gerbang desa berukir ayam jantan itu, dengan pohon-pohon willow di pekarangan itu, dengan bangku-bangku batu itu, dengan jajaran bunga daffodil dan astuaria di pagar perternakan itu. Aku seakan menembus lorong waktu dan terlempar ke sebuah negeri khayalan yang telah lama hidup dalam kalbuku.

Aku bergegas meminta sopir berhenti dan menghambur keluar. Ribuan fragmen ingatan akan keindahan tempat ini selama belasan tahun, tibat-tiba tersintesa persis di depan mataku, indah tak terperi.

Kepada seorang ibu yang lewat aku bertanya, “Ibu, dapatkah memberi tahuku nama tempat ini?”

Ia menatapku lembut, lalu menjawab.

“Sure lof, it’s Edensor…”

E D E N S O R – Buku ketiga karangan Andrea Hirata yang dipersembahakan untuk ibunya N.A. Masturah Seman Said Harun

Pelajaran moral nomor sepuluh:

Jangan sekali-kali datang ke Eropa pada bulan Desember.

Pelajaran moral nomor sebelas:

Untuk mendapatkan wanita cantik tapi bodoh, rupanya Anda hanya perlu menjadi seorang provokator.

Pelajaran moral nomor dua belas:

Ke mana pun tempat telah kutempuh, apa pun telah kucapai, dan dengan siapa pun aku berhubungan, aku tetaplah seorang lelaki udik, tak dapat kubasuh-basuh.

Pelajaran moral nomor tiga belas “pertama”:

Jangan bicarakan keadaan negeri kita dengan seorang ekonom klasik.

Pelajaran moral nomor tiga belas “kedua”:

Tukang jam, tukang reparasi televisi, tukang dadu cangkir, dan penerbit buku adalah profesi-profesi yang patut dicurigai, di mana pun mereka berada.

Pelajaran moral nomor empat belas:

Filosofi kebahagiaan: Tertawalah, seisi dunia akan tertawa bersamamu; Jangan bersedih karena kau hanya akan bersedih sendirian.

E D E N S O R – Buku ketiga karangan Andrea Hirata yang dipersembahakan untuk ibunya N.A. Masturah Seman Said Harun

Arai:

Di sini! Disaksikan pusara Jim Morrison, kukatakan padamu!

Rampas jiwaku!

Curi masa depanku!

Jarah harga diriku!

Rampok semua milikku!

Sita!

Sita semuanya!

Mengapa kau masih tak mau mencintaiku?!

Motto 3P: Preparations Perfect Perfomances, maksudnya penampilan yang sempurna tak lain karena persiapan yang matang

Kawan, perempuan yang marah sama sekali jangan dianggap enteng!

Jangan coba menantang orang-orang Inggris, mereka takkan surut

Ide-ide sinting memang selalu memiliki 2 dimensi: dicemooh atau diikuti orang-orang frustasi

Harun Yahya, “Tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan.”

Karena jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya, masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemuka apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apa pun keadaannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.